Posted by: irfan on: 06/10/2009
Rahasia Kaum Falasha
Judul buku : Rahasia Kaum Falasha
Penulis : Mahardhika Zifana
Penerbit : Edelweiss & Mizan
Cetakan : Pertama, Januari 2009
Tebal buku : 424 Hlm
Saya sebenarnya bukan pembaca novel, ga banyak novel yang saya baca. kebanyakan buku yang saya baca nonfiksi, lebih sempit lagi buku agama. sengaja beli novel ini karena penulisnya saudara saya. Dari pengalaman saya membaca novel tidak banyak yang saya kategorikan bagus. Mungkin imajinasi saya tidak begitu tinggi. Bahkan mungkin imajinasi saya kalah oleh film. Karena itu saya lebih banyak nonton film daripada baca novel.
Bicara tentang film rencananya novel ini akan menjadi film kolosal pertama dalam sejarah indonesia, setidaknya begitu yang tertulis di cover novelnya. Ketika pameran buku kemarin di Landmark, menurut penulisnya memang bakal dibikin jadi film walaupun sebenarnya di novel pertama ini tidak tergambar akan kolosal (banyak pemain). Mungkin kolosalnya baru ada di novel-novel berikutnya. Kata penulis rencananya Juni ini jilid keduanya keluar. Judulnya Pelangi di Puncak Ararat. Jilid ketiga judulnya The Seven Sleepers. Semuanya ada tiga jilid.
Yang menarik salah satu tokohnya, Esa, adalah seorang alumni sekaligus dosen UPI. Alumni UPI lainnya yaitu Nisa yang sempat menghilang tiga tahun setelah lulus. Karena dua tokoh tersebut sebagian latarnya terjadi di Bandung. Kemungkinan besar karena penulisnya memang alumni UPI Sastra Inggris. Latar berikutnya di Australia. Di australia kita bertemu dengan Syaikh Rasyid, istri dan murid-muridnya. Tampil sebagai penjahatnya Knight of Zion. Sedikit spoiler mereka pun dibantu oleh knight of zion yang berkhianat bernama Yitro seorang Beta Israel. Yitro dibantu oleh Rachel, perempuan sopir pesawat terbang sekaligus mekaniknya. Dan latar terakhir baru ada di Ethopia.
Ceritanya tentang perburuan harta karun warisan nabi Sulaiman atau raja Salomo. Dimulai dengan kematian Heri sahabat Esa. Esa akhirnya pergi ke Australia untuk mewakili Heri menerima penghargaan dari universitas Monash. Sebenarnya sampai di tengah cerita mereka masih kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. Baru setelah Yitro bergabung dengan mereka, jelaslah apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mereka harus menyelesaikan masalah tersebut. Mereka harus mengambil harta karunnya lebih dahulu. Subjektif pribadi saya, bagian menariknya ada di setengah terakhir novel.
Secara umum, novel ini cukup menarik dan yang paling utama sangat mengalir. Kalau saya tidak banyak halangan, novel ini paling lama cukup diselesaikan tiga malam saja. Karena sibuk novel ini dengan setia menemani saya ketika sedang berada di bis. Setidaknya 10 chapter bisa habis selama setengah jam di bis. Ibu saya menyelesaikan ke 62 chapternya dalam waktu dua malam saja. Hal menarik lainnya adalah pada bagian pemecahan teka-teki yang menggunakan al Qur’an. Di sini keahlian Esa sebagai filolog muslim ditampilkan. Di sela-sela cerita ada bumbu-bumbu romantis yang bikin saya geli sebagai seorang bujangan.
Sayangnya karakterisasi tokoh disini kurang kuat. Esa yang dalam judul disebut filolog kurang kuat digambarkan karakter filolognya. Bahkan pengetahuannya tentang filologi tampaknya tidak begitu jauh dengan Ummi Alifa, istri Syaikh Rasyid yang kebetulan senang baca hal seperti itu. Karakternya pun pesimistis dan seperti orang yang kebingungan. Contoh lain misalnya Yitro yang diceritakan seorang yang terlatih sebagai Knight of Zion, tapi di akhir cerita malah esa yang merelakan dirinya untuk meledakkan dinamit untuk membunuh musuh-musuhnya. Kurang tegasnya masing-masing karakter cukup membingungkan ketika dibaca sebab semua tokoh protagonisnya hampir selalu bersama sama.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, kehadiran jilid-jilid setelahnya cukup pantas untuk dinantikan.[]
catatan: novel keduanya sudah terbit.
Posted by: irfan on: 12/02/2009
Judul : Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Di Balik Virus Flu Burung
Pengarang : Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. Jp (K)
Penerbit : PT. Sulaksana Watinsa Indonesia
Tahun terbit : Cetakan kedua, 2008
Tebal buku : 204 + xii
“Uhh, dasar kapitalisme tolol membodohi bangsa yang tidak tahu, bangsa yang bodoh dan terbelakang bukan berarti menjadi sumber pendapatan bagi bangsa yang maju. Ilmu pengetahuan yang maju bukan untuk menipu bangsa yang belum maju. Ilmu pengetahuan yang maju hendaknya untuk mensejahterakan umat manusia, bukan untuk menjajah umat manusia yang tidak berdaya. (hal. 117) Read the rest of this entry »
Posted by: irfan on: 11/02/2009
Judul buku : IPDN undercover: Sebuah Kesaksian Bernurani
Penulis : Inu Kencana Syafiie
Penerbit : Progressio (Grup Syaamil)
Cetakan : Cetakan I, April 2007
Tebal buku : xxiv + 282 hal.
“Jika seorang dokter rindu uang, bukan kesehatan pasien, dia berusaha agar orang banyak yang sakit. Begitu juga jika seorang penggali kuburan rindu pada uang, dia mengharapkan orang banyak yang mati. Hal serupa terjadi di STPDN. Jika seorang pengasuh, seorang komite disiplin, seorang pejabat dan lain-lain posisi yang menentukan pemecatan, rindunya kepada uang, dia mengharapkan banyaknya masalah. Sebab, jika bermasalah, seorang praja bisa dipecat. Jika banyak yang bermasalah, akan banyak praja STPDN yang dipecat. Namun, jika praja bermasalah tadi dapat memberikan uang, kasusnya ditutup.” (hal. 191) Read the rest of this entry »
Posted by: irfan on: 11/02/2009
Judul : Perempuan, Feminisme, dan Islam
Judul asli : Islam The Choice of Thingking Women
Penulis : Ismail Adam Patel
Penerbit : Pustaka Thariqul Izzah
Penterjemah : Abu Faiz
Tahun terbit : September 2005
Tebal buku : XVIII + 157
Ada segelintir orang yang menuduh Islam sebagai agama yang menindas perempuan. Menurut mereka Islam membuat perempuan menjadi gologan kelas dua (setelah laki-laki). Buktinya laki-laki boleh berpoligami, laki-laki mendapat warisan dua kali lebih besar dari perempuan plus bukti-bukti lain yang kadang kala justru tidak diajarkan Islam. Padahal jika kita melihat perempuan dalam bingkai sejarah, Islam memiliki peran yang besar dalam pembebasan perempuan. Read the rest of this entry »
Recent Comments